Muslimah Sholihah

*****Mewujudkan Muslimah Kaliber Sholihah*****



Wednesday, October 12, 2005

KETEGUHAN MENGGENGGAM TAUHID : SITI ASIAH & MASYITOH 

~ oleh Rasyan Ridha

Semoga muslimah sekalian bisa mengambil hikmah dan mengikuti jejak keduanya, meninggal dalam keadaan teguh menggenggam “Tauhid.”

Alkisah di negeri Mesir, Fir’aun terakhir yang terkenal dengan keganasannya bertahta. Setelah kematian sang isteri, Fir'aun kejam itu hidup sendiri tanpa pendamping. Sampai cerita tentang seorang gadis jelita dari keturunan keluarga Imran bernama Siti Asiah sampai ke telinganya.

Fir'aun lalu mengutus seorang Menteri bernama Haman untuk meminang Siti Asiah. Orangtua Asiah bertanya kepada Siti Asiah : “Sudikah anakanda menikahi Fir'aun ?”

“Bagaimana saya sudi menikahi Fir'aun. Sedangkan dia terkenal sebagai raja yang ingkar kepada Allah ?”
Haman kembali pada Fir'aun. Alangkah marahnya Fir'aun mendengar kabar penolakan Siti Asiah.

“Haman, berani betul Imran menolak permintaan raja. Seret mereka kemari. Biar aku sendiri yang menghukumnya !”

Fir'aun mengutus tentaranya untuk menangkap orangtua Siti Asiah. Setelah disiksa begitu keji, keduanya lantas dijebloskan ke dalam penjara. Menyusul kemudian, Siti Asiah digiring ke Istana. Fir'aun kemudian membawa Siti Asiah ke penjara tempat kedua orangtuanya dikurung. Kemudian, dihadapan orangtuanya yang nyaris tak berdaya, Fir’aun berkata:"He, Asiah. Jika engkau seorang anak yang baik, tentulah engkau sayang terhadap kedua orangtuamu. Oleh karena itu, engkau boleh memilih satu diantara dua pilihan yang kuajukan. Kalau kau menerima lamaranku, berarti engkau akan hidup senang, dan pasti kubebaskan kedua orangtuamu dari penjara laknat ini. Sebaliknya, jika engkau menolak lamar

Karena ancaman itu, Siti Asiah terpaksa menerima pinangan Fir’aun. Dengan mengajukan beberapa syarat :
Fir’aun harus membebaskan orangtuanya.
Fir'aun harus membuatkan rumah untuk ayah dan ibunya, yang indah lagi lengkap perabotannya.

Fir'aun harus menjamin kesehatan, makan, minum kedua orangtuanya. Siti Aisyah bersedia menjadi isteri Fir’aun. Hadir dalam acara-acara tertentu, tapi tak bersedia tidur bersama Fir’aun. Sekiranya permintaan-permintaan tersebut tidak disetujui, Siti Asiah rela mati dibunuh bersama ibu dan bapaknya.

Akhirnya Fir’aun menyetujui syarat-syarat yang diajukan Siti Asiah. Fir'aun lalu memerintahkan agar rantai belenggu yang ada di kaki dan tangan orangtua Siti Asiah dibuka. Singkat cerita, Siti Asiah tinggal dalam kemewahan Istana bersama-sama Fir’aun. Namun ia tetap tak mau berbuat ingkar terhadap perintah agama, dengan tetap melaksanakan ibadah kepada Allah SWT.

Pada malam hari Siti Asiah selalu mengerjakan shalat dan memohon pertolongan Allah SWT. Ia senantiasa berdoa agar kehormatannya tidak disentuh oleh orang kafir, meskipun suaminya sendiri, Fir’aun. Untuk menjaga kehormatan Siti Asiah, Allah SWT telah menciptakan iblis yang menyaru sebagai Siti Asiah. Dialah iblis yang setiap malam tidur dan bergaul dengan Fir’aun.

Fir’aun mempunyai seorang pegawai yang amat dipercaya bernama Hazaqil. Hazaqil amat taat dan beriman kepada Allah SWT. Beliau adalah suami Siti Masyitoh, yang bekerja sebagai juru hias istana, yang juga amat taat dan beriman kepada Allah SWT. Namun demikian, dengan suatu upaya yang hati-hati, mereka berhasil merahasiakan ketaatan mereka terhadap Allah. Dari pengamatan Fir'aun yang kafir.

Suatu kali, terjadi perdebatan hebat antara Fir’aun dengan Hazaqil, disaat Fir’aun menjatuhkan hukuman mati terhadap seorang ahli sihir, yang menyatakan keimanannya atas ajaran Nabi Musa a.s. Hazaqil menentang keras hukuman tersebut.

Mendengar penentangan Hazaqil, Fir’aun menjadi marah. Fir’aun jadi bisa mengetahui siapa sebenarnya Hazaqil. Fir'aun lalu menjatuhkan hukuman mati kepada Hazaqil. Hazaqil menerimanya dengan tabah, tanpa merasa gentar sebab yakin dirinya benar.

Hazaqil menghembuskan nafas terakhir dalam keadaan tangan terikat pada pohon kurma, dengan tubuh penuh ditembusi anak panah. Sang istri, Masyitoh, teramat sedih atas kematian suami yang amat disayanginya itu. Ia senantiasa dirundung kesedihan setelah itu, dan tiada lagi tempat mengadu kecuali kepada anak-anaknya yang masih kecil.

Suatu hari, Masyitoh mengadukan nasibnya kepada Siti Asiah. Diakhir pembicaraan mereka, Siti Asiah menceritakan keadaan dirinya yang sebenarnya, bahwa iapun menyembunyikan ketaatannya dari Fir'aun. Barulah keduanya menyadari, bahwa mereka sama-sama beriman kepada Allah SWT dan Nabi Musa a.s.

Pada suatu hari, ketika Masyitoh sedang menyisir rambut puteri Fir’aun, tanpa sengaja sisirnya terjatuh ke lantai. Tak sengaja pula, saat memungutnya Masyitoh berkata : "Dengan nama Allah binasalah Fir’aun."

Mendengarkan ucapan Masyitoh, Puteri Fir’aun merasa tersinggung lalu mengancam akan melaporkan kepada ayahandanya. Tak sedikitpun Masyitoh merasa gentar mendengar hardikan puteri. Sehingga akhirnya, ia dipanggil juga oleh Fir’aun.

Saat Masyitoh menghadap Fir’aun, pertanyaan pertama yang diajukan kepadanya adalah : “Apa betul kau telah mengucapkan kata-kata penghinaan terhadapku, sebagaimana penuturan anakku. Dan siapakah Tuhan yang engkau sembah selama ini ?”

"Betul, Baginda Raja yang lalim. Dan Tiada Tuhan selain Allah yang sesungguhnya menguasai segala alam dan isinya."jawab Masyitoh dengan berani.

Mendengar jawaban Masyitoh, Fir’aun menjadi teramat marah, sehingga memerintahkan pengawalnya untuk memanaskan minyak sekuali besar. Dan saat minyak itu mendidih, pengawal kerajaan memanggil orang ramai untuk menyaksikan hukuman yang telah dijatuhkan pada Masyitah. Sekali lagi Masyitoh dipanggil dan dipersilahkan untuk memilih : jika ingin selamat bersama kedua anaknya, Masyitoh harus mengingkari Allah. Masyitoh harus mengaku bahwa Fir’aun adalah Tuhan yang patut disembah. Jika Masyitoh tetap tak mau mengakui Fir’aun sebagai Tuhannya, Masyitoh akan dimasukkan ke dalam kuali, lengkap bersama kedua anak-anaknya.

Masyitoh tetap pada pendiriannya untuk beriman kepada Allah SWT. Masyitoh kemudian membawa kedua anaknya menuju ke atas kuali tersebut. Ia sempat ragu ketika memandang anaknya yang berada dalam pelukan, tengah asyik menyusu. Karena takdir Tuhan, anak yang masih kecil itu dapat berkata, “Jangan takut dan sangsi, wahai Ibuku. Karena kematian kita akan mendapat ganjaran dari Allah SWT. Dan pintu surga akan terbuka menanti kedatangan kita.”

Masyitoh dan anak-anaknyapun terjun ke dalam kuali berisikan minyak mendidih itu. Tanpa tangis, tanpa takut dan tak keluar jeritan dari mulutnya. Saat itupun terjadi keanehan. Tiba-tiba, tercium wangi semerbak harum dari kuali berisi minyak mendidih itu.

Siti Asiah yang menyaksikan kejadian itu, melaknat Fir’aun dengan kata-kata yang pedas. Iapun menyatakan tak sudi lagi diperisteri oleh Fir’aun, dan lebih memilih keadaan mati seperti Masyitoh.

Mendengar ucapan Isterinya, Fir’aun menjadi marah dan menganggap bahwa Siti Asiah telah gila. Fir’aun kemudian telah menyiksa Siti Asiah, tak memberikan makan dan minum, sehingga Siti Asiah meninggal dunia. Sebelum menghembuskan nafas terakhir, Siti Asiah sempat berdoa kepada Allah SWT, sebagaimana termaktub dalam firman-Nya :

“Dan Allah membuat isteri Fir'aun perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, ketika ia berkata : “Ya Tuhanku, bangunlah untukku sebuah rumah di sisi_mu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Fir'aun dan perbuatannya dan selamatkanlah aku dari kaum yang zalim.” (Q.S. At-Tahrim [66] : 11)

Demikian kisah Siti Asiah dan Masyitoh. Semoga muslimah sekalian bisa mengambil hikmah dan mengikuti jejak keduanya, meninggal dalam keadaan teguh menggenggam “Tauhid.”

Tuesday, July 12, 2005

Karena Perbedaan Pendidikan 

Sebagai wanita, saya memiliki begitu banyak pertimbangan sebelum memasuki pintu pernikahan. Saya menganggap diri saya tergolong cukup sukses dari segi pendidikan karena berhasil meraih gelar sarjana. Sehingga waktu itu saya berpendirian, untuk mendapat suami kelak yang memiliki pendidikan minimal setara dengan saya.

Tetapi Allah-lah yang Maha Mengatur segalanya. Dan saya hanya hamba yang tak berdaya, ketika sudah berhadapan dengan kehendak-Nya. Meskipun pernikahan ini terlaksana atas kehendak kami berdua, tanpa ada paksaan dari mana pun, namun saya saya merasa jodoh yang dikaruniakan Allah ternyata tidaklah seperti yang saya bayangkan sebelumnya. Suami berpendidikan di bawah saya, dengan latar belakang pondok pesantren.

Memasuki sebagai suami istri, di antara kami berdua sering terjadi pertengkaran kecil. Penyebabnya adalah perbedaan prinsip di antara kami, terutama dalam memahami din. Ternyata perbedaan pendidikan, kadang-kadang membedakan pula pola pikir kami. Awalnya, saya merasa tak mungkin bisa terus bertahan bersama suami. Saya merasa akan gagal membina rumah tangga. Namun berbeda dengan saya, suami optimis bahwa saya adalah istri yang tepat untuknya buat selamanya.

Di tengah situasi seperti ini sayapun berpikir, kenapa saya tidak bisa menjadi guru dalam rumah tangga sendiri? Padahal selama ini saya dinilai orang sebagai guru yang berhasil di madrasah tempat saya mengajar. Sebagai guru, saya mampu memenuhi fungsi mengajar, membimbing, mengarahkan dan mendidik. Saya juga harus mampu menghadapi segala situasi dari berbagai keunikan siswa. Apakah dari pengalaman ini saya tidak mampu mengadopsinya dalam rumah tangga sendiri? Tentunya di sini bukan dalam artian mengambil alih kepemimpinan suami.

Sesungguhnya, saya tidak ingin gagal membina rumah tangga, apalagi setelah dikaruniai bayi laki-laki mungil sebagai buah cinta dan kasih sayang kami. Sejak awal pun, cita-cita saya adalah menjadi istri yang shalihat dalam kepemimpinan suami yang juga shaleh.

Setelah saya renungi, ternyata saya lah yang selama ini kurang bisa mendudukkan diri. Saya terlalu terpaku pada teori di bangku pendidikan padahal kehidupan praktis kadang-kadang tidak sekaku teori. Bukankah selama ini suami cukup paham dengan aktivitas saya di luar rumah? Sebagaimana cita-cita awal, yaitu ingin membina rumah tangga sakinah, setiap saat dalam do’a, saya selalu memohon agar perjalanan rumah tangga kami selalu berada di jalan-Nya dan perbedaan pendidikan tidak menjadi masalah yang berarti.

Ternyata betul kata salah seorang psikolog, bahwa menikah adalah sebuah perjalanan tanggung jawab yang besar, mulia, dan agung sehingga siapa pun harus siap menanggungnya. Rumah tangga yang sakinah, mawwadah, dan penuh rahmat memang harus diwujudkan dengan sebuah perjuangan. Kini ketika saya lebih pengertian terhadap suami dengan ditunjang do'a, perbedaan itu seakan kian menipis. (Didik Maryani, S.Pd.I)

(Sumber : http://www.ummigroup.co.id/?pilih=lihat&id=100)

Monday, July 11, 2005

Berkeahlian, Mengapa Tidak? 

Seorang muslimah yang memiliki keahlian tertentu dapat memberikan kontribusi lebih besar kepada keluarga dan masyarakat.

Memiliki keahlian yang bermanfaat dalam bidang tertentu sangat penting bagi seorang muslimah. Banyak manfaat yang dapat diperolehnya dengan memiliki keahlian, antara lain, memperoleh penghasilan dan dapat menjadi sarana memperbanyak amal saleh.

Memperoleh Penghasilan
Al Islam, sebagai suatu sistem yang lengkap telah mengatur tentang kewajiban untuk memberikan nafkah kepada wanita. Tanggung jawab untuk memberikan nafkah kepada wanita, pada dasarnya berada pada seorang ayah, suami atau negara.

Tanggung jawab seorang ayah antara lain adalah menafkahi anggota keluarganya. Hal ini disampaikan oleh Rasulullah Saw. Dari Abu Hurairah, dia berkata bahwa Rasulullah Saw bersabda: "...mulailah dengan orang yang menjadi keluargamu!" Seorang istri akan berkata: "Silakan pilih, kamu beri makan atau kamu ceraikan aku!" Seorang budak akan berkata, "Beri makan aku dan pekerjakanlah aku." Seorang anak akan berkata: "Beri makanlah aku sampai kamu meninggalkanku pada orang lain." (HR.Bukhari)
Bagi seorang suami, menafkahi istri merupakan fardhu 'ain sebagaimana telah ditegaskan Allah Swt di dalam al Quran surat An Nisa ayat 34: "Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebagian ]mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka..." Penegasan mengenai hal ini juga disampaikan oleh Rasulullah Saw dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Muslim: Dari Jabir bin Abdullah, dia berkata bahwa Rasulullah Saw bersabda: “Kalian wajib memberi mereka makan dan pakaian menurut yang patut...”

Kewajiban negara untuk memberi nafkah dalam hal ini terjadi pada wanita yang menjadi janda dan tidak memiliki kemampuan untuk menafkahi diri dan anak-anaknya. Sementara, keluarganya pun tidak memiliki kemampuan untuk menanggungnya.

Dalam salah satu riwayat yang dikisahkan oleh Zaid bin Aslam, dari bapaknya, dikisahkan pada suatu ketika Umar bin Khattab yang sedang berada di pasar didatangi oleh seorang wanita. Wanita itu berkata kepada Umar, "Wahai Amirul Mu’minin, suamiku sudah wafat dan ia meninggalkan beberapa orang anak yang masih kecil. Demi Allah! Mereka belum mampu memasak kaki kambing ( belum bisa mencari makan). Mereka tidak memiliki lahan pertanian dan tidak memiliki hewan ternak..."
Umar bin Khattab kemudian berhenti bersama wanita itu.

Tidak lama kemudian, Umar berpaling ke arah seekor unta yang memiliki punggung kekar yang sedang ditambatkan pada sebuah rumah. Umar menaikkan dua karung penuh berisi makanan ke atas unta tersebut serta meletakkan barang belanjaan dan pakaian di antara kedua karung tersebut. Kemudian ia menyerahkan tali kendali unta kepada wanita tersebut. Umar berkata, "Tuntunlah unta ini! Dia tidak akan binasa hingga Allah memberikan kebaikan kepadamu..." (HR. Bukhari)

Betapapun kewajiban memberikan nafkah telah diatur sebagaimana di atas, dalam kehidupan sehari-hari kita menjumpai kondisi di mana seorang wanita terpaksa mencari nafkah. Bisa jadi karena suami atau ayahnya sudah tidak ada, atau tidak mampu menafkahinya dengan layak, sementara negara sendiri tidak memiliki suatu sistem yang mampu memberikan jaminan kepada mereka. Oleh karenanya, sangat penting bagi seorang wanita untuk memiliki keahlian yang dapat dimanfaatkannya sewaktu-waktu untuk memperoleh penghasilan.
Sehubungan dengan keahlian wanita, Abdul Halim Abu Syuqqah dalam bukunya “Kebebasan Wanita”, mengingatkan kepada kita tentang pentingnya menyediakan pendidikan yang cocok bagi wanita dengan dua tujuan khusus, yaitu: agar memiliki kemampuan untuk mengurus rumah tangga dan anak-anak serta menguasai keahlian tertentu yang dapat dimanfaatkannya kapan saja.
Abdul Halim Abu Syuqqah menyandarkan pendapatnya ini kepada hadits yang diriwayatkan dari Abu Burdah, dari Bapaknya, dia berkata bahwa Nabi Saw bersabda, “Laki-laki mana saja yang mempunyai budak perempuan, lalu dia mengajarnya dengan baik, dia didik, kemudian dia merdekakan. Lalu dia kawini budak perempuan tersebut, maka baginya dua ganjaran...(HR. Bukhari).

Apabila mendidik budak perempuan merupakan suatu hal yang penting, tentu lebih penting lagi mendidik anak perempuan. Pentingnya mendidik anak wanita agar berkeahlian juga terungkap dalam perkataan Ibnu Abidin yang dikutip dari bukunya Hasyiah Ibnu Abidin Ala ad Dar al Mukhtar: “Orangtua hendaklah menyerahkan anak perempuannya kepada seorang perempuan yang bisa mengajarinya cara memotong pakaian dan menjahit.”

Sarana beramal saleh
Dengan keahlian yang dimilikinya, seorang wanita dapat melakukan amal saleh. Apabila suaminya tidak mampu, penghasilan yang diperoleh seorang wanita dan dipergunakannya untuk mencukupi kebutuhan keluarganya merupakan sedekah. Hal ini pernah dilakukan oleh Zainab, istri Abdullah bin Mas’ud, seorang sahabat Rasulullah Saw. Zainab merupakan seorang wanita pengrajin yang menjual hasil kerajinannya untuk menafkahi keluarganya. Dia berkata, "Wahai Rasulullah, aku adalah seorang wanita yang memiliki ketrampilan. Hasil ketrampilanku itu aku jual sebab aku, suamiku dan anak-anakku tidak memiliki apa-apa. Hal itu aku lakukan untuk menafkahi mereka." Rasulullah Saw bersabda, "Kamu mendapatkan pahala dari apa yang kamu nafkahkan untuk mereka."

Penghargaan terhadap wanita yang mau memanfaatkan waktunya dan bekerja untuk kebaikan orang lain ditunjukkan pula oleh Aisyah, Ummul Mu'minin ra. Aisyah berkata, "...aku belum pernah sama sekali melihat wanita yang lebih baik dalam soal agama dibandingkan Zainab (binti Jahsy), paling takwa kepada Allah, paling benar dalam bicara, paling suka menyambung silaturahmi, serta paling suka mengorbankan dirinya untuk pekerjaan yang dengan pekerjaan itu dia bisa bersedekah dan mendekatkan diri kepada Allah Swt.' (HR. Muslim)

Kontribusi yang lebih besar dapat diberikan oleh wanita dengan menyumbangkan keahliannya pada bidang-bidang yang menjadi fardhu kifayah, seperti mengisi berbagai profesi yang menjadi kebutuhan masyarakat muslim. Seperti, menjadi tenaga medis, pendidik, penulis yang menyeru kepada kebaikan, ataupun profesi-profesi lainnya. Namun, tentu saja dalam melakukan berbagai aktivitas tersebut, seorang muslimah harus berpegang kepada ajaran Islam agar amalnya tidak menjadi sia-sia. Wallahu a’lam bissawwab.(Inayati)

(Sumber : http://www.ummigroup.co.id/?pilih=lihat&id=22)

Monday, June 13, 2005

Akhwat Sejati 



Seorang gadis kecil bertanya pada ayahnya, "Abi ceritakan padaku tentang Akhwat sejati?".
Sang ayah pun menoleh sambil kemudian tersenyum:
Anakku ...
Seorang akhwat sejati bukanlah dilihat dari kecantikan paras wajahnya, tetapi dilihat dari kecantikan hati yang ada di baliknya. Akhwat sejati bukan dilihat dari bentuk tubuhnya yang memesona, tetapi dilihat dari sejauh mana ia menutupi bentuk tubuhnya. Akhwat sejati bukan dilihat dari begitu banyaknya kebaikan yang ia berikan tetapi dari keikhlasan ia memberikan kebaikan itu. Akhwat sejati bukan dilihat dari seberapa
indah lantunan suaranya, tetapi dilihat dari apa yang sering mulutnya bicarakan. Akhwat sejati bukan dilihat dari keahliannya berbahasa, tetapi dilihat dari bagaimana caranya ia berbicara.

Sang ayah diam sejenak sembari melihat ke arah putrinya.
"Lantas apa lagi Abi?", sahut putrinya.
Ketahuilah putriku ... Akhwat sejati bukan dilihat dari keberaniannya dalam berpakaian tetapi dilihat dari sejauh mana ia berani mempertahankan kehormatannya. Akhwat sejati bukan dilihat dari kekhawatirannya digoda orang di jalan tetapi dilihat dari Kekhawatiran dirinyalah yang mengundang orang jadi tergoda. Akhwat sejati bukanlah dilihat dari seberapa banyak dan besarnya ujian yang ia jalani tetapi dilihat dari sejauhmana ia menghadapi ujian itu dengan penuh rasa syukur.

Dan ingatlah ...
Akhwat sejati bukan dilihat dari sifat supelnya dalam bergaul, tetapi dilihat dari sejauhmana ia bisa menjaga kehormatan dirinya dalam bergaul. Setelah itu sang anak kembali bertanya, "Siapakah yang dapat menjadi kriteria seperti itu, Abi?"

Sang ayah memberikannya sebuah buku dan berkata,"Pelajarilah mereka!" Sang anak pun mengambil buku itu dan terlihatlah sebuah tulisan "Istri Rosulullah"

Sunday, June 12, 2005

PERTENGKARAN DALAM ALAM RUMAHTANGGA 

Tiada orang yang tak pernah bertengkar seumur hidup. Jarang kita temui sesebuah rumahtangga yang tak pernah bertengkar sama sekali semenjak hidup bersama kera hidup yang tiada pertengkaran adalah hidup yang sendirian. Hampir seluruh perkahwinan mengalami pertengkaran, meskipun ramai orang malu mengakuinya.

Sebenarnya jika sebuah perkahwinan tanpa pertengkaran sama sekali membuktikan matinya emosi. Bukanlah bererti pertengkaran itu baik namun pertengkaran juga mendatangkan kebaikan dan keburukan. Jika terjadi pertengkaran kerana sesuatu yang tidak diingini berlaku dalam diri pasangan hidup. Tujuannya adalah agar sesuatu yang tidak baik itu hilang dari pasangannya, baik dalam bentuk peribadi maupun pekerjaannya. Sebenarnya pertengkaran itu sebagai petanda awal dari sebuah Perkahwinan. Di mana suami isteri mulai cuba untuk menyatukan selera, tujuan dan keperluan hidup mereka. Jika mereka takut berbincang kerana kuatir akan berlaku pertengkaran, akhirnya ia akan menimbulkan masalah yang lebih besar pada masa akan datang.

Jika suami isteri bertengkar secara kecil-kecil tidak membawa kepada pergaduhan, akhirnya mereka akan dapat mengatasi perselisihan dan kemudiannya mereka akan merasa lebih akrab.
Jika seorang suami merasa marah terhadap seseorang di tempat kerjanya, setelah pulang ke rumah, mungkin ia akan meluahkan rasa marahnya itu pada isterinya. Jika anda berpendapat suatu kemarahan harus diluahkan, maka anda akan meluahkan pada isteri anda. Pada hal dalam Islam, kita disuruh bersabar.

Jika pertengkaran tidak dapat dielakkan lagi kerana mungkin salah menyampaikan sesuatu ataupun pasangan kita tidak mahu menerima hakikat diri kita, maka usahakanlah agar pertengkaran itu tidak membawa bencara. Perhatikan keadaan persekitaran agar tiada pihak lain ikut sama atau menjadi tekanan perasaan.

Cara-cara menghadapi Pertengkaran

1. Jika terjadi pertengkaran, maka janganlah mencari kelemahan pasangan kita. Dan tidak wajar pertengkaran tersebut hanya ingin mencari kemenangan. Tetapi usahakanlah untuk menyelesai kan masalah secara bersama.

2. Jika pertengkaran itu menyangkut tentang satu topik, janganlah masalah-masalah lain dimasukkan sama kerana ia akan menjadikan suatu pertengkaran yang besar yang boleh membawa bencana,

3. Batasi kekasaran jika berlaku pertengkaran. Jangan bertindak menggunakan fizikal seperti memukul, melemparkan barang dan sebagainya. Cara ini tidak akan menyelesaikan masalah malah akan menimbulkan masalah yang lebih besar.

4. Di dalam pertengkaran, gunakan bahasa yang sesuai agar pasangan tidak tertekan. Kata-kata yang menyakitkan hatinya seperti: "Ini semua salah kamu...!", "Engkau bodoh...!", "Engkau selalu melakukan kesalahan...!" dan sebagainya. Sebaliknya gunakanlah perkataan yang lembut seperti, “Hati saya luka kerana perbuatan itu...", "Kamu tak sedar, betapa hancurnay hati saya..." dan lain-lain.

5. Setelah bertengkar, jangan biasakan diri suka menyendiri, kemudian menjauhkan diri dari pasangan hidup. Jangan memisahkan diri kerana ia tiada nilainya sama sekali dalam perkahwinan. Bahkan ia merugikan hubungan suami isteri.

6. Jangan cuba menggunakan seks atau wang untuk membalas pertengkaran inikan menyebabkan terjadinya pertengkaran yang lebih hebat.

7. Jangan membiarkan pihak ketiga ikut serta dalam pertengkaran keluarga. Kehadiaran pihak ketiga misalnya mertua, ipar, adik beradik hanya akan menambahkan kecurigaan dan mungkin menambah menyala api pertengkaran. selesaikan secara baik antara suami isteri.

8. Jangan bertengkar di depan anak-anak kena inia akan menjadikan anak-anak bingung dan tertekan perasaan. Jika ini berlaku, akan wujud banyak lagi masalah lain.

Wednesday, June 08, 2005

BERSIAPLAH MENJADI IBU 

Ibu adalah sebuah sekolah, yang apabila engkau persiapkan (dengan baik), berarti engkau telah mempersiapkan suatu bangsa dengan dasar yang baik.

Ungkapan seorang penyair di atas menggambarkan betapa besarnya peran seorang ibu dalam membentuk sebuah generasi yang kelak akan menentukan kualitas suatu bangsa. Ibu adalah sekolah -bahkan sekolahan pertama- bagi anak-anaknya. Ibu bagaikan wadah pendidikan yang mengajarkan dan mendidik berbagai macam ilmu dalam kehidupan anak-anaknya dengan cinta dan kasih sayang. Sebagai pendidik awal, ibulah yang pertama kali meletakkan fondasi dasar -terutama dalam aspek keimanan- kepada anak dalam proses pendewasaan mental dan pematangan jiwa.

Gambaran keurgensian tugas seorang ibu tercakup dalam pernyataan yang diungkapkan oleh Dr. A. Madjid Katme, Presiden Asosiasi Dokter Muslim di London dalam Konferensi Dunia tentang Wanita di Beijing yang ia tuturkan berikut ini:
"Tugas keibuan adalah pekerjaan yang paling terhormat dan membutuhkan ketrampilan di dunia ini. Dan terlaksananya tugas ini sangat penting bagi pemeliharaan dan perlindungan anak terutama di masa awal-awal pertumbuhannya. Walaupun tugas keibuan sebenarnya adalah tugas yang full time, tak berarti ayah sebagai pencari nafkah tak ikut bertanggung jawab. Tak ada satu jenis pekerjaan pun yang dapat merampas seorang ibu dari tugas keibuannya. Dan tak ada seorang pun yang dapat mengambil alih tugas keibuan tersbut."

Bagi seorang muslimah, betapapun beratnya tugas seorang ibu tetapi keimanan dan harapannya akan iming-iming surga memotivasinya untuk rela dan bersungguh-sungguh menjadi seorang ibu. Apalagi Islam memberikan kedudukan dan penghormatan yang tinggi terhadap seorang ibu. Seorang ibu muslimah dapat menjadi salah satu penentu seseorang untuk meraih surga seperti sabda Rasulullah saw., berikut ini"
"Surga itu di bawah telapak kaki ibu."

Untuk membentuk generasi muslim yang tangguh dan bertaqwa, tidaklah cukup hanya dengan menghadirkan anak-anak yang cerdas saja, melainkan anak-anak yang optimal dari berbagai segi seperti biofisik, psikososial, kultural, dan ruhiyah serta melingkupi skala dunia dan akhirat.
Maka untuk mencetak generasi dengan kriteria di atas, dibutuhkan para ibu yang handal, oleh karena itu para muslimah yang kelak akan menjadi calon ibu harus mempersiapkan dirinya untuk menjadi ibu harapan umat. Persiapan ini tidak hanya harus dilakukan setelah menikah, tetapi dapat dimulai saat seorang wanita masih lajang agar ketika ia memasuki perannya sebagai ibu, ia sudah siap melaksanakan tugas keibuannya.

Persiapan Ruhiah

Menyadari besarnya tugas seorang ibu, maka seorang wanita harus banyak-banyak melakukan pendekatan kepada Allah SWT untuk memohon kekuatan ruhiah dan petunjuk dalam mendidik titipan Allah swt tersebut. Oleh karena itu seorang muslimah harus senantiasa mendirikan ibadah-ibadah selain ibadah wajib. Seorang wanita sholihah ialah muslimah yang mengimani bahwa Allah SWT adalah Robbnya, Muhammad saw adalah Nabinya dan Islam adalah diennya. Ia cinta kepada Allah dan Rasul-Nya serta taat terhadap perintah keduanya dan menjadikan ketaatannya itu sebagai filter yang membentengi dirinya dari kemaksiatan.
Seorang ibu yang sholihah amatlah penting karena ibu adalah orang yang paling dekat dengan anak pada masa-masa balita. Inilah kesempatan untuk menanamkan aqidah keislaman dalam diri anak-anaknya dan mereka didik sang permata hati untuk cinta kepada Allah SWT dan Rasul-Nya serta menjauhkan diri dari kemaksiatan dan akhlaq yang rusak. Selain itu ibu yang sholihah diharapkan mampu menciptakan sebuah rumah tangga sakinah yang sangat diperlukan untuk perkembangan jiwa anak. Dalam persiapan ruhiyah ini banyak hal yang dapat dilakukan sebagai santapan rohani yang bermanfaat seperti:
* Dzikrullah dan Tilawatil Qur'an
Dengan dzikrullah, seseorang akan bertambah cinta dan taqwa kepada Allah dan Allah pun ingat kepadanya sesuai firman Allah SWT:
"Maka ingatlah kalian kepada-Ku, niscaya aku akan ingat kepadamu". (QS. Al-Baqarah: 152)
* Menghafalkan Al-Qur'an
* Memperbanyak Istighfar
* Memperbanyak Doa
* Memperbanyak Shalawat kepada Rasulullah saw.
* Qiyamullail
* Memperbanyak ibadah-ibadah sunnah
* Membiasakan hal-hal yang baik.
Jika seorang ingin anaknya rajin bersedekah, maka biasakanlah untuk sering bersedekah karena anak biasanya membutuhkan contoh dari orang tuanya. Jika kita ingin anak kita tidak berdusta, maka janganlah kita contohkan berkata dusta. Jika kita ingin anak kita menghormati kita sebagai orang tuanya, maka hormatilah kedua orang tua kita. Jika kita ingin anak kita tidak berkata dan berbuat kasar, maka berhati-hatilah dalam berbicara karena anak akan merekam dan meniru apa yang diucapkan orang tua atau lingkungannya.

Persiapan Aqliah

"Buat apa anak perempuan sekolah tinggi-tinggi, toh nanti akan ke dapur-dapur juga.." Ungkapan seperti ini sering kita dengar sebagai pernyataan tidak pentingnya kaum wanita menuntut ilmu. Pada sebagai sebuah sekolah bagi anak-anaknya, ibu yang berpendidikan lebih dibutuhkan. Seorang ibu yang pintar dapat berfikir kreatif bagaimana cara mengembangkan potensi anak-anaknya. Setidaknya seorang ibu yang mencintai pendidikan akan selalu mementingkan pendidikan yang terbaik untuk anak-anaknya.
Untuk menjadi seorang ibu yang pintar tidak harus selalu mendapatkan pengetahuan dari bangku sekolah atau kuliah. Cara yang paling efektif dalam mengembangkan wawasan seorang wanita ialah dengan banyak membaca. Kini sudah banyak tersedia buku-buku tentang metode pendidikan anak secara islami yang menerangkan apa saja hak-hak anak, mendidik anak sesuai tahap perkembangannya, dan tentang kesalahan cara pendidikan anak dan solusinya. Bahkan kini sudah banyak beredar buku yang membicarakan cara-cara mendidik anak sejak dalam kandungan. Kita tidak perlu menjadi seorang dokter untuk dapat mengobati atau memberikan pertolongan pertama pada anak kita yang sakit. Kini sudah banyak buku-buku yang menerangkan tentang makanan apa saja yang bermanfaat bagi perkembangan tubuh dan otak anak, obat-obatan tradisional, cara menangani pertolongan pertama pada anak, dan lain-lain.
Selain membaca, banyak sarana lain yang dapat dimanfaatkan untuk menambah wawasan dan meningkatkan pengetahuan seperti mengikuti berbagai seminar, ceramah, atau diskusi yang membahas tentang pendidikan anak.

Persiapan Jasmaniah

Kekuatan fisik merupakan hal yang patut diperhatikan oleh seorang calon ibu. Seorang wanita membutuhkan ketahanan fisik untuk menghadapi masa-masa kehamilan dan menyusui. Bagaimana calon ibu dapat mempertahankan kesehatan janin bila ia sudah direpotkan dengan berbagai penyakit karena akibat tidak bisa menjaga kesehatan. Masa kehamilan adalah masa-masa yang membutuhkan kesehatan fisik wanita secara prima. Allah SWT menggambarkan kelemahan seorang ibu ketika masa kehamilan dalam ayat berikut ini:
"Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada kedua orang ibu bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu." (QS. Luqman: 14)
Untuk itu seorang muslimah diharuskan menjaga kesehatannya sedini mungkin. Berikut ini ada beberapa kiat sehat ala Rasulullah saw:
" Selalu bangun sebelum Shubuh
Selain untuk mendapatkan kesegaran udara, bangun sebelum shubuh juga memberikan hikmah berupa berlimpahnya pahala dari Allah dan untuk memperkuat pikiran dan menyehatkan perasaan.
" Aktif Menjaga Kebersihan * Tidak Pernah Banyak Makan
" Gemar Berjalan Kaki * Tidak Pemarah
" Optimis dan Tidak Putus Asa * Tak Pernah Iri Hati
Demikianlah persiapan-persiapan dasar yang harus dilakukan seorang wanita sebagai calon ibu pencetak generasi qur'ani yang akan membangun suatu bangsa. Mudah-mudahan kita semakin siap memikul tugas keibuan yang berat tapi mulia ini sehingga kita menjadi ibu yang didambakan oleh umat. Amin

Sumber Bacaan:
Bukan Sembarang Ibu, Muhammad Hassan, Bina Mitra Press 1997
Peran Ibu dalam Mendidik Generasi Muslim, Khairiyah Husain Taha Shabir, MA., CV. Firdaus, 2001
Pembersih Jiwa, Imam al-Ghazali, Imam Ibnu Rajab al-Hambali, Ibnu Qoyyim al-Jauziyah. Penerjemah: Nabhani Idris. Pustaka, 1996

(Dicopy dari al-dahwah.org)

Wednesday, June 01, 2005

KEWAJIPAN SEORANG MUSLIMAH 

Wanita Islam merupakan bagian dari masyarakat yang tidak dapat dipisah-kan dan mempunyai posisi yang sangat penting. Ia mempunyai kewajiban terhadap Allah, dirinya sendiri, keluarga, lingkungan dan terhadap Islam.Pada kali ini akan sedikit dibahas tentang kewajiban seorang muslimah terhadap dirinya sendiri, lingkungan dan Islam.


KEWAJIBAN TERHADAP DIRI SENDIRI

Kewajiban seorang muslimah terhadap dirinya adalah berhias dengan akhlaq yang mulia sebagai cermin dari keimanan yang ada di dalam dirinya.Diantara akhlaq mulia yang harus dimiliki seorang muslimah adalah :

1. Hati yang lembut dan perasaan yang sensitif.Rasulullah sebagai panutan bagi seluruh umat Islam terkenal mempunyai hati yang sangat lembut.

2. Jujur.Sifat ini mutlak harus ada pada diri setiap muslimah. Jujur dalam bersikap sehari-hari, selalu berhati-hati dengan segala ucapannya agar lidahnya tidak tergelincir pada perkataan yang dusta.

3. Berani & mempunyai fisik yang kuat.Bagaimana seorang muslimah yang berani dan kuat ? Asma binti Abu Bakar adalah salah seorang wanita yang dapat dijadikan contoh. Dimana dalam masa kehamilannya beliau berjalan melintasi padang pasir dan menaiki bukit terjal sambil membawa bekal bagi Rasulullah dan ayahnya Abu Bakar yang ketika itu bersembunyi di gua Tsaur. Sedang-kan keberanian dalam berpendapat dapat kita ambil contoh teguran Kaulah binti Salabah kepada Ummar bin Khattab yang pada masa kekhalifahannya hendak membatasi harga mahar.

4. Menjauhi teman yang buruk.Pada prinsipnya teman yang buruk adalah teman yang menjauhkan kita dari mengingat Allah dan mengajak kita pada perbuatan yang mengundang murka Allah. Teman seperti inilah yang harus kita hindari, karena akhlaq seseorang itu dapat dilihat dari akhlaq teman karibnya.Kewajiban terhadap LingkungannyaSeorang muslimah hidup dalam suatu lingkungan masyarakat dan saling berinteraksi dengan mereka.

Dalam berinteraksi dengan sesamanya, seorang muslimah harus memiliki hal-hal sebagai berikut :

1. Sikap adil.Ia harus mampu bersikap adil kepada orang-orang di sekitar-nya. Tidak membedakan antara yang satu dengan yang lainnya.

2. Keperdulian terhadap orang lain.Tanggap terhadap situasi dan keadaan saudaranya yang sedang mempunyai masalah. Perduli bukan berarti hanya mengetahui bagaimana keadaan saudaranya, tetapi juga berusaha untuk menunjukkan perha-tiannya sebagai bukti dari keper-duliannya itu.

3. Hati yang pengasih.Seorang muslimah harus memiliki rasa sayang terhadap sesamanya dan mampu untuk menunjukkan rasa sayangnya itu.

4. Menjaga hak-hak orang lain.Apa yang menjadi hak orang lain adalah merupakan kewajiban bagi diri kita untuk memenuhinya. Sebagai contoh, hak seornag muslim dari muslim yang lain adalah dikunjungi ketika ia sakit.


KEWAJIBAN TERHADAP ISLAM

Diantara kewajiban muslimah terhadap Islam adalah keikutsertaanya dalam menyebarkan syiar-syiar Islam. Dengan selalu berprilaku baik, menjaga adab-adab yang islami, dan membina hubungan baiknya dengan masyarakat, maka secara tidak langsung ia telah turut andil dalam menyebarkan nilai-nilai Islam. Dari sinilah orang dapat melihat dan merasakan indahnya islam sebagai rahmatan lil alamin (rahmat bagi seluruh alam).

Selain itu seorang muslimah juga dituntut untuk dapat berperan aktif dalam membina masyarakatnya sesuai dengan kemampuan dan kelebihan masing-masing. Aisyah ra adalah salah satu istri Rasulullah yang pandai tentang ilmu hadits, fiqih, dan kedokteran. Kemampuan tersebut beliau ajarkan kepada para muslimah lainnya dalam rangka keikutsertaannya membina masyarakat pada saat itu.

Demikianlah tiga kewajiban seorang muslimah yang harus ia jalankan. Dengan mengetahui kewajiban-kewajiban tersebut diharapkan bahwa setiap muslimah akan sadar, bahwa dia hidup bukan untuk dirinya sendiri, dan dia juga islam bukan untuk dirinya sendiri, tetapi juga hidup dan islam bagi masyarakatnya, dan harus turut serta dalam menyebarkan nilai-nilai islam tersebut. Tanggung jawabnya begitu besar, dan kelak akan dimintai pertanggung-jawabannya di hari akhir.

~NisaOnline~

[Top]